Sunday, June 10, 2007

Puisi WS Rendra

Kantor Margonda, jam 1:21 pagi.

Waktu aku ngoprek2 MP3 di komputer kantorku ini, aku nemuin file yang ternyata isinya puisi dari WS Rendra.. Seneng banget, bisa denger (lagi) suara ‘Si burung Merak’ ini berpuisi. Sengaja aku catet salah satu puisinya.  Kata-kata yg kutulis lebih besar cuma ekspresiku sesaat aja kok, ga lebih ^^. 

 

Bukan mw sok jadi pujangga, tapi mungkin ada diantara teman2 yg jg suka sama puisi ini.

 

 

Kupanggil namamu.

WS Rendra

 

Sambil menyeberangi sepi,

Kupanggili namamu, wanitaku

Apakah kau tak mendengar?

 

Malam yang berkeluh kesah

Memeluk jiwaku yang payah

Yang resah

Karena memberontak terhadap rumah

Memberontak terhadap adat yang latah

dan akhirnya tergoda cakrawala

 

Sia-sia kucari pancaran matamu

Ingin kuingat lagi bau tubuhmu yang kini sudah kulupa

 

Sia-sia

Tak ada yang bisa kucamkan

Sempurnalah kesepianku

 

Angin pemberontakan menyerang langit dan bumi

Dan duabelas ekor serigala

Muncul dari masa silamku

Merobek-robek hatiku yang celaka

 

Berulangkali kupanggil namamu

Dimanakah engkau wanitaku?

Apakah engkau sudah menjadi masa silamku?

 

………………………

 

 

 

Salam,

Ihsan.

Posted by ihsan at 08:08:21 | Permalink | No Comments »

Thursday, June 7, 2007

Salam *)

Oleh :
Ihsanul Muttaqien dalam ‘Hikmah’ pada Harian Umum Republika 05/10/04

Sejak Nabi Adam AS, salam sesungguhnya sudah dikenal dan bahkan disyariatkan oleh Allah SWT. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya. Beliau bersabda, “Ketika Allah menciptakan Adam AS, Allah berfirman kepadanya, “Pergilah dan ucapkanlah salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu kemudian dengarkanlah jawaban mereka kepadamu. Sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan bagi anak cucumu”. Maka Adam AS mengucapkan, “Assalamu’alaikum”. Mereka menjawab, “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Mereka memberi tambahan dengan, “warahmatullah”. (HR Muttafaqun ‘alaih).

Dalam salah satu kisah dalam Al-Quran, Nabi Ibrahim AS pernah menjawab salam dari para malaikat. Allah SWT berfirman, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim, malaikat-malaikat yang dimuliakan? Ingatlah ketika mereka masuk ke tempatnya dan mengucapkan, “Salamun”. Ibrahim AS pun menjawab, “Salamun”. Kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.” (QS 51:24-25).

Dalam kehidupan sehari-hari sudah selayaknya kita sebagai umat Islam untuk senantiasa menebarkan salam. Baik ketika kita bertatap muka dengan orang lain, ketika hendak masuk rumah, maupun pada saat membuka sebuah majlis pertemuan dan berbicara di depan publik. Dalam menyampaikan salam pun dianjurkan untuk mengucapkannya dengan sempurna agar mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa barangsiapa yang mengucapkan “Assalamu’alaikum” maka pahala yang didapatkannya adalah 1 hasnah dan dilipatgandakan menjadi 10 hasnah. Barangsiapa yang menambahkannya menjadi “Assalamu’alaikum warahmatullah”, pahalanya dua hasnah dan akan dilipatgandakan menjadi 20 hasnah. Sedangkan yang menyempurnakannya “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” maka pahalanya menjadi 30 hasnah.

Diantara fadhilah-nya, salam dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama Muslim. Dari Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam diantara kamu sekalian’.” (HR Muslim).

Selain itu, Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salam merupakan jaminan kesejahteraan bagi umat Islam. Bagi orang-orang kafir yang mau tunduk pada hukum-hukum Islam atau yang disebut dengan ahlu dzimmah, salam juga merupakan jaminan keamanan. “Sesungguhnya Allah menjadikan salam sebagai kesejahteraan bagi ummat kami dan keamanan bagi ahlu dzimmah kami.” (HR Ath-Thabrani).

***

 

*) ini tulisan 3 th lalu, surprise bgt ternyata diposting orang di blognya… aq copy lg trus kuposting disini, smg ad manfaatnya.

Posted by ihsan at 11:42:56 | Permalink | Comments (2)

Friday, June 1, 2007

Sekedar Celoteh….

Kantor Margonda, 00:23
Tulisan ini bukan tulisan yang serius. Dibuat sekenanya dan dalam kondisi yang seadanya. Ya, ini sekedar celotehku.

Walaupun demikian, semoga saja ada manfaat yg bisa diambil dari sekedar celoteh ini. Minimal bwt aku sendiri, yg memang sedang butuh sekali manfaat2 (baca: masukan2) yang banyak dari siapa pun, wa bil khusus dari diriku sendiri. Ya, kata orang, apa yg berasal dari diri kita sendiri lebih ampuh dari apa pun jg yg berasal dari orang lain.

Sekumpulan kata2 bijak sehebat apa pun itu dari orang hebat mana pun, masih bisa dikalahkan oleh sebuah kalimat sederhana yang kita simpulkan dan kita bikin2 sendiri. Karena bisa jadi kalimat sederhana yg kita bikin2 sendiri itu adalah sebuah rangkuman suatu proses pembelajaran diri kita dari setiap kejadian, peristiwa, atau pengalaman yang kita jalani sendiri.


Dan satu kalimat yg aku bikin2 sendiri, baru saja aku bikin: setiap senyuman akan menghasilkan satu keajaiban..

Duh, mungkin bwt tmn2, kalimat bikin2an aku itu biasa-biasa aja, ga ada istimewanya. Ga menggugah. Tapi jujur, bwt aku, setidaknya bwt saat ini, itu bisa jadi sangat istimewa. Diawali dari beban yg aku rasakan dari masalah2 yg menumpuk di batok kepala ini. Diilhami oleh sebuah ketukan pintu kantor, malam tadi.

Sebuah senyum sumringah dari temanku, yg ga aku duga2 kedatangannya. Dan justru ga aku duga2 juga bisa langsung menular-merasuk ke dalam sel2 syaraf yg menyambung ke otakku. Aku ikut senyum.

Sedetik setelah aku ikut2an senyum, aku yg sblmnya ngerasa terbebani sama masalah2 yg berat, jadi lebih entengan. Ngeliat temenku yg satu ini cengar-cengir, jd bikin aku mikir, ternyata masalah bisa juga kita hadapi dengan cengar-cengir juga kok. Ga selalu langsung menyelesaikan masalahnya sih, tapi paling ga, bisa mempermudah kita untuk mencari penyelesaiannya.

Aku jadi inget sama teori “senyum 2-2-7”-nya ustadz Jamil Azzaini. Senyum 2 centi ke kanan, 2 centi ke kiri dan tahan selama tujuh detik. Setiap wajah yang tersenyum pasti menyenangkan bwt yg ngliatnya.. Duh, spontan kok aku jadi keingetan ya… tmn perempuan yg aku idam2kan (ehem) melemparkan senyumnya waktu ngeliat aku di jalan. Atw senyumnya Gita Gutawa setiap dia tampil di TV (ketauan ngefans yah? Hehe). Juga senyum manis ibuku, waktu aku berusaha ngelucu di depannya….

Wews, ternyata memang setiap senyuman yg aku sebut itu, dan senyum2 yg lain yg ga sempet aku sebut, udah memberikan keajaiban2 bwt aku. Kecil atau besar, yg aku nyadar atw ga. Semua ajaib.

Lebih dari itu semua, senyum itu sedekah. Dan, ngutip dari ustadz Yusuf Mansur, setiap sedekah yang kita berikan pasti akan dibalas dengan berlipat ganda di akhirat nanti, juga di dunia. Secara cash, kontan. Jadi, setiap senyuman kita pasti ada balasannya, dibayar kontan.

Mari, sebelum mengakhiri tulisan ini, aku mengajak tmn2 semua untuk senyum.

:)

Tuh, ajaib bukan…

Salam,
Ihsan.

NB: Spesial thanx bwt Ardhi, bwt senyumannya yg ga pernah ga dia lemparkan ke siapa pun juga.

Posted by ihsan at 09:21:23 | Permalink | Comments (3)

Thursday, March 1, 2007

Fresh Graduate bukan Pengangguran !

Suasana forum kultum subuh Rabu (28/2) kemarin memang sedikit berbeda. Empat dari semua penghuni MJ bakal dilepas ’masa lajang’-nya sebagai mahasiswa hari itu juga. Tapi aq terus terang gak setuju sama kata-katanya Budina, ”Hari ini merupakan hari berkabung bagi kita. Karena hari ini akan bertambah pengangguran-pengangguran baru…”

Kontan saja aq nyeletuk, ”Eit, kata-katanya harus diralat! Bukan pengangguran tapi FRESH GRADUATE!!!”

Emang kenapa fresh graduate bukan pengangguran?

”Magic of word… kekuatan kata-kata bisa mempengaruhi semuanya!” Aq inget bgt kata mas Samsul Arifin yg dikutip lagi sama ustadz Hamzah beberapa waktu yg lalu.

Kadang2 qt mengucapkan kata2 negatif yang tanpa sadar itu mempengaruhi fikiran qt jadi negatif, dan seringkali diikuti juga dengan sikap qt yang cenderung negatif. Pengangguran itu kan kata negatif. Apa coba yg terlintas dalam fikiran qt dari kata itu? Orang gak punya pekerjaan, pemalas, jadi beban orang lain, luntang-lantung gak jelas, nglamar kerja sana-sini tapi gak keterima2, dipandang buruk sama temen, kluarga juga masyarakat. Tuh kan negatif semua??

Coba sekarang klw fresh graduate.. wuihh, fresh men… masih seger.. kayak buah yg baru dipetik dari pohonnya, siapa sih yg gak mau? Banyak juga perusahaan yg justru nyari fresh graduate ini utk direkrut, contohnya Trans TV yg berkembang krna byk karyawannya yg fresh graduate. Hmm, berbeda nyata kan?

By the way, aq udah sarjana nih. Alhamdulillah. Dan aq lebih bersyukur lagi coz sekarang aq bisa punya sikap yang lebih baik untuk menghadapi pasca kelulusanku. Setidaknya, aq gak harus bingung mw kemana aq setelah lulus ini?  Bakal cepet dapet kerjaan apa gak? Klw pun dah dapet kerjaan, gajinya gede apa gak? Dan pertanyaan2 lain yg gak jauh2 dari apa yg harus aq lakukan sebagai konsekuensi statusku yg udah gak jadi mahasiswa lagi.

Emang sih skg ini aq belum dapet kerjaan yang fixed. Meleset sedikit dari rencanaku sblmnya yg pengen udah kerja sebelum lulus. Tapi gak apa-apa. Insya 4JJI, skg aq udah punya gambaran sendiri tentang aq yang bakal SUKSES nantinya. Apa pun pekerjaanku, dimana pun itu. Aq yakin, aq bisa SUKSES!

Aq nyadar banget sebuah kesuksesan tuh ada prosesnya. Gak ujug-ujug. Gak instan. Toh, semua orang sukses jg pernah berdarah-darah, jatuh bangun sebelumnya. Justru hal ini yg bikin aq tambah semangat untuk sesegera mungkin menjalani proses itu, menikmati semuanya sampai nanti aq pun bisa benar-benar mewujudkan keSUKSESanku. Tentunya semua gak lepas dari ridho dan kehendak 4JJI SWT.

Selasa malem (27/2), sehari sblm wisudaanku kemaren, aq beruntung bgt bisa sharing sama ustadz Hamzah sampe jam 2 pagi. Banyak cerita, banyak inspirasi yg aq dapet dari beliau. Semuanya membuat aq jadi tambah yakin, SUKSES itu pilihan qt. Dan aq skg udah memilih, bahwa aq harus SUKSES :-)

Masih inget kan sama hadist ttg penjual minyak wangi? “Barangsiapa yg bergaul dengan penjual minyak wangi, maka ia akan ketularan harum wanginya…” Ini salah satu kuncinya! “Barangsiapa yg bergaul sama orang-orang SUKSES, maka ia akan ketularan SUKSES…”

Sekali lagi aq bersyukur, alhamdulillah, karena skg ini aq sudah menemukan komunitas orang-orang SUKSES. Aq janji – sama diriku sendiri – klw aq bakal terus ‘nongkrong’ barneg orang-orang SUKSES itu sampe aq bener2 bisa jadi SUKSES seperti mereka. Insya 4JJI. Minta doanya yaaa….

Salam SUKSES,
Pastikan hari ini jauh lebih baik.

Ihsan.

Posted by ihsan at 11:16:33 | Permalink | Comments (2)

Thursday, January 25, 2007

Perempuan Senja dan Lelaki yang Suka Menyendiri *)

BEBERAPA waktu terakhir ini aku selalu merindukan senja. Entah mengapa, kadang aku juga membencinya. Senja selalu mengingatkanku pada bayangan perempuan yang berkelebat di setiap putaran jarum jam. Tapi perempuan itu tak pernah bisa kusentuh, apalagi kucumbu atau entah kuapakan lagi. Hanya suaranya yang selalu singgah di ceruk telingaku yang kian lebar. Aku kadang juga tertawa sendiri, entah gila atau sekedar terlena oleh sandiwara yang selalu kumainkan. Tapi bukan sandiwara percintaan seperti yang sering kulihat di sinetron-sinetron picisan.
Entah sejak kapan perselingkuhan ganjil ini kumulai. Tiba-tiba segalanya mengalir begitu saja. Mulai dari kamar mandi sampai di atas ranjang, bayangan perempuan––yang tak pernah melepas gaunnya––itu selalu mengikutiku. Sesekali mengirimiku selimut atau sekedar mengucapkan, “Good night, have a nice dream…” Kadang menyita waktu tidurku yang biasanya kumulai saat jarum jam di atas kepala. Aku merindukannya, tapi juga membencinya. Suatu kebencian karena selalu merindukannya.

“Siapakah sih kamu?” kataku suatu senja entah ke berapa.
“Kamu tak perlu tahu siapa diriku, seperti aku tak pernah mau tahu siapa kamu!” Seperti biasa, selesai bicara dia selalu menyelipkan seikat bunga di celah-celah jantungku sampai tembus ke paru paru. Bunga yang tak berwarna dan tak pernah kering.
“Apa maumu?” hardikku.
“Mauku seperti maumu juga. Tak usah marah! Nikmati saja permainan ini. Aku sengaja datang untuk menemanimu. Maaf tapi kamu tak bisa merabaku, seperti kamu meraba huruf-huruf di keyboard atau di kaca monitor. Kamu juga tidak bisa menghayalkanku, seperti saat kamu membuat cerita-cerita.”
“Apakah kamu sebangsa iblis atau sejenisnya?”
“Jangan kasar! Belum saatnya kamu tahu siapa aku. Mungkin aku lebih manusia dari pada kamu!!!”

Tut tut tut… Suaranya lenyap ditelan gerimis. Malam mulai merangkak dan cahaya kuning kemerah-merahan semakin sirna. Perempuan itu juga menghilang. Selama beberapa hari. Tak pernah lagi kudengar suaranya. Tak ada lagi yang menemaniku makan atau menghabiskan malam di sekitar taman kota sambil menikmati jagung bakar. Aku mulai membencinya, karena baru kusadari senja terasa asing tanpa kehadirannya. Kemudian dia muncul lagi, juga saat senja. Saat langit berwarna kemerah-merahan. Saat matahari kuning bulat seperti telor mata sapi.

Sejak itu aku menamainya ‘perempuan senja’, karena memang dia sering datang saat senja. Hanya sesekali tengah malam atau bahkan pagi-pagi sekali. Dia juga sudah mulai mengucapkan, “Selamat pagi, bagaimana tidurnya semalam?”. Seperti biasa aku selalu mengatakan bangun kesiangan, karena semalaman terlalu asyik mengeksploitasi imajinasi.
“Jadi kamu lagi-lagi tidak bisa menikmati menyembulnya fajar?”
“Yap!”
“Sungguh sial nasibmu!”
“Tapi aku selalu bisa menikmati senja!”

Dia tertawa. Melengking kemudian hening…
Aku pernah mencoba mencarinya di sekitar terminal dan toko-toko swalayan. Siapa tahu perempuan itu ada disana, sedang menunggu taksi atau menawar pakaian. Pernah juga kucari di diskotik atau panti pijat, tapi dia memang benar-benar tidak ada. Dia bisa muncul kapan saja dan menghilang semaunya.

Kemudian setiap senja aku juga sering mampir ke kantor-kantor dan menanyakan perempuan itu. “Mencari siapa?” tanya seorang satpam yang mungkin curiga melihat aku modar-mandir di depan kantornya.
“Mencari seorang teman. Apakah anda mengetahuinya?”
“Siapa namanya dan bagaimana ciri-cirinya?”
“Saya sendiri tak pernah tahu. Tapi dia seorang perempuan, yach seorang perempuan, aku jelas sekali mengenal suaranya.”
“Perempuan di sini banyak. Anda jangan main-main!” Dia menggertak.
“Aku tidak main-main!”
Kemudian aku ceritakan sedikit tentang perempuan itu. “Dia suka menemuiku saat senja. Tapi beberapa hari ini dia menghilang begitu saja.”
“Tapi Anda tidak tahu siapa dia. Ah, sudahlah lebih baik anda pulang dan mandi lalu ke dokter.” Kemudian satpam itu pergi sambil menggerutu, entah apa yang diucapkannya. Aku tak mau bertengkar dengannya. Mungkin aku memang harus periksa ke psikiater karena terlalu sering menyendiri sehingga berhalusinasi tidak karuan. Tapi ini bukan suatu kebohongan indah.
***

Sekarang entah senja yang keberapa aku tidak tahu, mungkin sudah ratusan senja kulalui bersama perempuan itu. Perempuan yang kemudian menjelma menjadi teman, pacar atau entah apa lagi.

Seorang teman, setelah mengetahui permainan ganjil itu malah menamainya ‘gadis digital’. “Lho kok?” kataku heran. “Itu wajar saja terjadi di era globalisasi teknologi. Kamu kalau ingin punya banyak pacar tak perlu susah-susah. Tinggal buka internet,” katanya sambil menghisap rokok mild dan menghembuskan asapnya ke atas.
“Terus kalau aku ingin kencan?” kataku.
“Alahhh, itu malah lebih gampang. Asal kamu punya pulsa sudah beres,” katanya sambil tertawa ngakak.

Saat itu ponselku berdering. Ada pesan masuk. “Selamat sore… udah mandi belum udah makan belum jangan tidak mandi lagi ya bauu…..dan jangan lupa sembahyang ya nanti siap kamu mandi aku hubungi lagi. Mmmuuuuuah….” Sebuah pesan singkat yang membuatku terbang ke langit. Perempuan itu lagi. Kemudian sayup-sayup terdengar sebuah lagu Sheila On 7 dari tape recorder tetangga, beriringan dengan adzan maghrib.***

*) aq suka bgt sm cerpen ini, udah lama sih.. jd inget sm masa lalu..hehe… daripada ga posting2 blog nya, jd sepi, mnding aq posting cerpen ini aj… mdh2n tmn2 jg suka bacanya.. ayo ambil hikmah dr cerpen ini! :)

Posted by ihsan at 05:00:59 | Permalink | No Comments »

Tuesday, December 12, 2006

Mestakung-ku

Siapa yang ga kenal Prof. Yohanes Surya ? Orang banyak membicarakannya karena kesuksesan beliau membawa Tim Olimpiade Fisika Indonesia menjadi juara dunia sejak tahun 2000. Sekarang, orang membicarakannya lagi dengan konsep sukses yang dituliskannya dalam buku dan diberi judul Mestakung.

Mestakung ini kependekan dari Semesta Mendukung. Konsepnya simpel, bahwa dalam kondisi yg kritis maka alam semesta akan mengatur dirinya untuk keluar dari situasi kritis itu. Contohnya kalau kita lagi dikejar anjing, maka mekanisme dalam tubuh kita akan mengatur supaya selamat dari anjing itu. Waktu kita melompat, lompatan kita akan lebih jauh dari biasanya atau kita jadi bisa melewati tembok yg tinggi padahal kalau dalam kondisi normal kita tidak bisa melakukannya. Aneh ya? Tapi itu bukan hal yang aneh, kata Prof Yo, karena Mestakung bekerja disana.

Pernah ngalamin situasi kritis, trus kita terdorong utk keluar darinya sampai kita benar2 menemukan jalan keluar? Aku pernah. Paling ga aku merasakannya dua minggu kebelakang. Mudah2an ada manfaat yg bisa diambil dari ceritaku ini.
Diawali hari Sabtu (2/12), waktu aku nyerahin draft 1 skripsiku ke dosen pembimbing (akhirnya stlh sekian lama tertunda ^_^). Dosenku ngoreksi sekenanya (ini sih menurut aku).. sambil corat-coret yg salah dan kasih catatan2 kecil.
Abis itu dosenku bilang, ”Ya sudah, kamu seminar ya minggu depan.. hari rabu.” Deg, aku kaget, bayangin aja aku cuma dikasih waktu 3-4 hari buat nyiapin seminar yg asumsiku ga secepat itu.

Aku pulang ke kosan dg perasaan campur aduk antara seneng dan khawatir. Seneng krn ini berarti bisa mempercepat kelulusanku, tp sekaligus khawatir takut2 aku ga bisa menuhin target dosenku utk seminar hari rabunya. Aku harus ngurus persiapan seminar ke sekret PS ditambah lagi aku harus cari pembahas buat seminarku itu. Aku ngerasa dalam kondisi kritis. Aku critain rencana seminarku ini ke temen2 se-kosan. Juga temen2 lain yg kebetulan ke kosan waktu itu. Kondisinya semakin kritis, soalnya aku udah terlanjur cerita2, gmn jadinya kalau hari rabu itu aku ga jadi seminar?

Hari minggunya aku coba minta tolong Ichank, adik kelasku, buat cariin pembahas. Maklumlah, tmn2 seangkatanku hari gini udah ‘langka’ di kampus, hehe.. Hari seninnya aku ke sekret buat ngurus2 rncana seminarku itu, aku juga nyari kalau2 di sana ada informasi yg mw jadi pembahas. Aku sms juga temen seangkatanku, Unul, nanyain siapa aja tmn seangkatan yg masih nyangkut di kampus.. siapa tw ada yg mw jadi pembahas. Tapi semuanya nihil, belum ada hasil.

Masalah nambah lagi karena ternyata ada borang yg harus ditandatangani dosenku, itu sama artinya aku harus nyari dosenku 2 hari itu. Waktu aku kontak dosenku, ternyata dosenku lagi ada di Makassar sampe selasa malam. Aku ga bisa minta tandatangannya. Untungnya ada Bu Ida yg baik ^_^. Kata bu Ida, “ya udah tanda tangan mah bisa nyusul nanti.” Bagaimanapun juga aku masih punya keyakinan, kalau semua pasti ada jalan keluarnya. Alhamdulillah akhirnya aku dapet juga pembahas walaupun waktu itu udah hari selasa siang. Persyaratan seminar aku beresin siang itu juga. Aku jadi seminar besoknya.

Tapi ternyata masalah belum selesai. Di hari-H aku masih dapet masalah. Peserta seminarku waktu itu belum sampai 10 orang, seminarku otomatis tertunda. Waktu udah molor 45 menit baru pesertanya pas 10 orang. Aku udah ketar-ketir. Tapi alhamdulillah seminarku bisa dimulai. Walaupun aku ngerasa banget kalau aku belum terlalu siap untuk seminar apalagi dikasih waktu yg ga banyak, tp semua bisa dilalui juga. Hasilnya, nilai A ditangan. Alhamdulillah….

Ya, mestakung terjadi buat aku waktu itu. Mm, kalau bahasa aku sih mestakung itu sama juga dengan pertolongan 4JJI yang diberikan dari jalan yg tak terduga sebelumnya. Prof Yo bilang kalau mw mestakung terjadi kuncinya di Trilangkun.. Kritis, melangkah dan tekun. Dalam kondisi yg kritis, kita harus melangkah dan jangan lupa kita juga musti tekun. Thanx Prof Yo… Aku juga ga akan lupa sama apa yg disampaikan Prof waktu ngisi seminar di kampusku beberapa waktu lalu, ”Apa yang kau mau, kejar.. pasti dapat!”


Salam sukses,
Pastikan hari ini jauh lebih baik.

Ihsan.

Posted by ihsan at 12:54:10 | Permalink | Comments (1) »

Sunday, December 3, 2006

saat rasa itu datang *)

Kekhawatiran bisa saja hinggap dalam pikiran kita kapan pun waktunya. Dia akan menjelma menjadi semacam virus yang siap merusak dengan menyebarkan kebimbangan dan keraguan dalam diri ini. Seumpama sedang menempuh suatu perjalanan, maka langkah kita akan terhenti karenanya kemudian kita menjadi tak yakin akan sampai pada tujuan yang kita inginkan di awal perjalanan.

Saudaraku, bukankah sesungguhnya hidup yang sedang kita jalani ini adalah sebuah perjalanan panjang yang harus kita tempuh. Padahal tak ada seorang pun yang dapat menjamin bahwa kita akan sampai ke tujuan. Lalu, akankah kita menghentikan langkah kaki ini ? Tentu TIDAK.

Sungguh Allah telah menetapkan rizqi, jodoh dan ajal atas kita semua. Yang kita lakukan hanyalah berikhtiar dalam prosesnya hingga Allah memenuhi janji-Nya itu. Memang menjadi hal yang wajar ketika menjalani proses tersebut kita akan menjumpai rasa khawatir dan cemas. Khawatir akankah Allah menetapkan sebagaimana yang kita harapkan. Cemas mungkinkah kita dapat menerima semuanya itu menjadi hal yang benar-benar terbaik sebagaimana penilaian Allah untuk kita.

Saudaraku, ketika rasa khawatir datang, kenapa kita tidak kembalikan saja semua hanya pada Sang Maha Pemberi kekhawatiran itu ? Temukanlah jawaban di sepertiga malam kita. Hadapkan diri pada-Nya dalam kepasrahan dan kepatuhan apa adanya. Hingga kita dapat melangkahkan kaki kembali untuk meneruskan perjalanan ini yang sempat tertunda.

*) tulisan ini aku tulis beberapa waktu yg lalu.. (lupa kapan persisnya), ternyata dimasukin ke blog salah satu tmen ku…. (rada ge-er sih :P) skg aku masukin blogku sendiri. utk mengingatkan diri sndiri, n mudah2n bermanfaat bwt tmn2 yg lain…amin.

Posted by ihsan at 03:42:44 | Permalink | Comments (1) »

Kemaren, Hari ini dan Esok (2)

23:35 >> Jam di laptop hafid skg.. nyela waktu ngerjain skripsiku..

“Fid, maaf ya akhirnya laptopmu kupinjem bwt ngeblog, tp bener ko ngerjain skripsi juga.. hehe..”


Mm, besok pagi insya 4JJI aku janjian sama Molid bwt ngajarin dia caranya bikin tampilan friendster lebih OK.. Hehe, dg gayaku yg sok pinter td aku bilang sama dia klw urusan gtu2 yg bisa cuma yg udah advance bukan untuk yg masih amatiran…levelnya udah beda.. Padahal sih, aku bisanya ngutak-atik lay out fsku juga baru kemaren malem, itu juga ga sengaja.. untung naluri rasa ingin tauku yg cepat menangkap segala hal yang baru bwt aku… :p


Krn besok mw ke warnet, kupikir kenapa ga skalian aku ngeblog jg.. nyambungin blog aku yg kemaren kutulis bersambung.. hehe..


Eh, ngomongin soal fs.. aku mw ngucapin makasih byk bwt tmen2 yg udah kasih testi ke fsku. Wlupun belum byk.. tp aku seneng bgt, setidaknya aku jd tau gmn tmn2 ngliat aku, menilai siapa ihsan di mata mereka? (Ditunggu yg laen yg belum yaa..)


Ada yg menarik lho soal testi2an ini… minjem teori psikologinya Charles H. Cooley ttg looking-glass self. Seolah-olah kita menaruh cermin di depan diri kita. Kita bisa jadi subyek dan obyek persepsi untuk diri kita sendiri secara bersamaan. Ringkasnya gini, waktu kita bercermin, kita mbayangin gimana kita kliatan di mata orang lain. Kayak kita ngliat diri kita di cermin. Misalnya, kita ngerasa klw tampang kita jelek.
Nah, yg kedua, kita mbayangin gimana orang lain menilai penampilan kita itu. Kita bisa saja berfikir klw mereka nganggap kita ga menarik… Maka sempurnalah persepsi bahwa kita memang JELEK! :) dan testimonial temen2 itu-lah yg berfungsi sbg ’cermin’… Bingung??? coba deh dibaca lagi pelan2… hehe…


Udah ngerti kan? Iya..iya… aku percaya klw tmn2 cerdas ko… :p


Udah ah, kita ngomongin yg laen aja..

Duh, jadi keingetan sama skripsiku nih.. Belum beranjak dari bab 7.. masih ngecap di analisis hasil pengolahan vertikal.. sambil nunggu hasil olahan data AHP yg kuminta tolong ke Mas Rizal. Cuma dikit padahal, aku minta tolong olahin data vertikal tingkat tiga aja. Yg lain alhamdulillah udah kuolah. Tapi sampe semalem imel yg kukirim ke Mas Rizal belum dibales. Ga tau deh, apa Mas Rizal belum smpet ngolahnya atw mungkin udah diolah tp hasilnya lom smpet dikirim lewat imel.


Terus terang, bebanku semakin berat klw kuliahku lom kelar2 gini.
Gmn ga jadi beban klw tiap ditelfon ibu atw bapak, pertanyaannya pasti selalu, “sudah sampai mana penelitianmu?” juga “udah ketemu dosennya?”. Belum lagi sms2 yg selalu ngingetin:


San, semoga kali ini ga lewat lagi.


Standar bgt ya bwt mahasiswa yg udah klwat batas waktu normal dia untuk jadi mahasiswa..


Ya Rabbi, kabulkan setiap doa yg meminta agar aku dimudahkan dan disegerakan dalam penyelesaian studiku ini. Amiiiiiiiiiiin..ya rabbal’aalamiiin.


Eh..eh… tp ada yg beda waktu aku ngobrol sama Qomar, anak S2 yg ternyata angkatan 2000 jg.. Dia bilang, ”mungkin memang berat wktu kita harus menyelesaikan kuliah kita. Tapi lebih berat waktu mnjalani masa setelah kita selesai.” (dengan logat makasarnya) Mmm, iya kali ya? Masih ceritanya dy, jadi waktu lu2s thn 2005 kmrn, dy smpt ngalamin stres selama 7 bulan. Dy stres gara2 mikirin mw kemana stlh jadi sarjana… Kata dy, ”di kamar terfikir, di WC terfikir, di meja makan terfikir…” (masih dg logat makasarnya yg kental,hehe)


Dy juga blg, klw denger lagu Iwan Fals yg Sarjana Muda… wuih,, kena bgt! Coba deh simak liriknya :

Berjalan seorang pria muda dengan jaket lusuh dipundaknya

Di sela bibir tampak mengering terselip sebatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak

Wajah murung semakin terlihat

Dengan langkah gontai tak terarah

Keringat bercampur debu jalanan


Engkau sarjana muda resah mencari kerja

Mengandalkan ijasahmu

Empat tahun lamanya bergelut dengan buku

Tuk jaminan masa depan


Langkah kakimu terhenti

Di depan halaman sebuah jawatan


Berjalan lesu engkau melangkah

Dari pintu kantor yang diharapkan

Terngiang kata tiada lowongan

Untuk kerja yg didambakan


Tak peduli berusaha lagi

Namun kata sama kau dapatkan

Jelas menatap awan berarak

Wajah murung semakin terlihat


Engkau sarjana muda resah tak dapat kerja

Tak berguna ijasahmu

Empat tahun lamanya bergelut dengan buku

Sia-sia semuanya


Setengah putus asa dia berucap : maaf ibu


Aku jadi inget sama kata dosenku. Kebetulan waktu itu kuliahku barengan sama wisudaan. Dosenku itu ngomong, ”Kakak kelas kalian yg wisuda hari ini cuma jadi raja sehari. Boleh aja skg seneng2.. Lihat aja besok, pasti mereka bakal bingung mw kemana habis ini…..”

Waah, mbahas soal masa depan emg kyk ngeraba2 sesuatu di ruangan yg gelap. Serba ga jelas, serba ga pasti. Tapi ju2r klw aku ngliatnya malah jadi tantangan tersendiri.. bakal jadi apa ya aku nanti..? Ya, emg sih ada khawatir jg.. Klw bahasa aku, ”ketika ada rentang antara harapan dan kenyataan yg belum terwujud maka disana ada kekhawatiran.. rasa takut jgn2 kenyataan itu ga sesuai dengan harapan kita.”


Tapi, klw udah kita kembaliin lagi ke konsep rizqi, insya 4JJI bakal jadi lebih tenang. Kan emg rizqi tuh udah diatur, dan kita baru akan meninggal dunia ketika rizqi kita sudah habis diberikan semuanya. Artinya, klw emg kita msh ditakdirkan utk hidup itu berarti masih ada jatah rizqi kita dari 4JJI. Tinggal skg, darimana jalan kita untuk mendapat rizqi itu…


Ya, darimana jalannya kita dapet rizqi itu…
Darimana coba? Ya macem2.. masing2.. :)


Aku ga mw panjang lebar ngomong soal ini. Soalnya episode hidup aku blm smpe ke situ.. walaupun skg2 ini udah mulai..mm, mgkn klw di sinetron baru casting kali ye…hehe…


Yg jelas..gini deh, kata Iwan Fals juga :

Hari ada pagi

Hari ada malam

Hari ada siang

Dalam hari slalu ada kemungkinan

Dalam hari masih ada kesempatan

Special thanks to Iwan Fals for inspiring..


Pastikan hari ini jauh lebih baik!


Salam sukses,

Ihsan

Posted by ihsan at 03:34:53 | Permalink | No Comments »

Monday, November 6, 2006

Kemaren, Hari ini dan Esok (1)

Kalau ada airmata yang menetes di hari fitri tahun ini, itu karena aku ngerasa ga dapet kemenangan di bulan Ramadhan. Masih banyak dosa dan kesalahan yang aku buat. Masih terlalu males rasanya bergiat dalam ibadah. Tapi paling ga, ada satu yang aku dapet dari Ramadhan kemaren. Aku jadi tambah ngeh kalau memang jalan yang mestinya aku tempuh itu cuma satu, jalan menuju surga. Siapa sih yang ga mw masuk surga? Pasti smua orang maunya masuk surga. Ga ada yg mw masuk neraka. Tapi kayak lagunya Gigi jg :

 

pintu sorga.. pintu sorga..

dimana engkau berada

bagaimana caranya

kita memasukinya?

 

Ya, ga gampang ternyata cari jalan yg bisa nganterin kita bwt masuk pintu surga itu. Jadi inget sama apa yg pernah disampaikan Kanjeng Nabi, Muhammad SAW. Suatu saat, beliau membuat satu garis lurus dengan sebilah kayu di tanah. Di kiri-kanan garis lurus itu Rasul buat garis-garis kecil.

 

“Garis ini menggambarkan jalan yang lurus (jalan kita ke surga), sedang disamping kiri kanan itu ada beberapa garis, yang masing-masing ada pintunya. Setiap pintu dijaga syetan. Dan setiap orang yg melewati jalan lurus itu akan digoda oleh syetan dengan iming-iming berbagai kesenangan. Siapa yg tertarik dg iming-iming syetan, maka terjerumuslah ia ke dalam kesesatan.”

 

Susahnya lagi, di kesempatan lain Rasul Muhammad pernah bersabda, “Khujibatinnar bisy syahawat wa khujibatil jannah bil makaarihi”.. neraka itu diliputi oleh berbagai keinginan syahwat, sedangkan surga diliputi dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh hawa nafsu..

 

Tuh kan, itu jg kenapa orang bilang yg enak-enak kok yg dilarang.. So, kyknya kita musti lebih ati-ati melangkah.. jgn2 langkah kaki kita ini bukan lagi ke surga…

 

By the way, mudik lebaran kemaren bwt aku adl waktu ktmuan sama tmn2 lama.. Emg seneng ya bisa ktmu tmn2 dari masa lalu.. bisa mengenang kebersamaan jaman-jaman dulu, ngobrolin apa aktivitas skg.. sudah kerja dmn skg.. jg tmn2 yg lain.. si ini dimana.. si anu kabarnya gimana.. siapa aj yg udah nikah..

 

Utk taun ini ga byk sih temen2 yg berhasil aku temuin, wktu ada reunian SMA se-angkatan aku jg ga smpet dateng.. tapi walaupun bgtu aku ttp sneng bgt bisa ktemu mereka..

 

Ini daftar temen-temen yg dateng ke rumahku :

  1. Febri Harjatmo. Dia dulu anak 3 IPA 3 SMUN1C. Belum lulus, masih penelitian. Masih jg dg rambut gondrong nanggungnya..
  2. Tato Subhan. Anak IPS (aku lupa IPS brapa?). Udah kerja di BPK Surabaya. Tetep dengan senyum khasnya dan ttp dg kebiasaan lamanya, ke Perpus setiap hari Sabtu/Minggu.
  3. Sofyan. Anak IPA 1. Wah, anaknya udah dua euy.. Msh gawe di PDAM.
  4. Agus Riyadi. IPA brapa ya?? Dulu anak RIMA tp ikut Salafy.. skg masih cari-cari kerja katanya.
  5. Adi Rismawan. IPA 3, tmen sekelasnya Febri dulu. Katanya sih udah jadi pengusaha.. peng-pengan usaha.. hehe..
  6. Andri. Ini mah temen sebangkuku dulu, senasib seperjuangan jadi ’setan pojok’ IPA 2..hehe.. Skg udah jadi guru di SMA Al Irsyad. Salut..salut..
  7. Wahyu. Anak Bahasa.. yg dulu semaputan.. Dateng2 ke rumahku curhat masalah ‘cinta terlarang’nya.. mumet aku.. Skg masih kul di Yk.. jurusan Informatika Semester 3!!
  8. Andi ‘Amien Rais’. Jujur, aku ga begitu kenal sama dia. Makasih ya udah mau maen ke rumahku.
  9. Haris. Klw ini mah bukan anak SMUN1C tapi anak STM.. skg join sama Adi jadi pengusaha.. :)
  10. Yudi. Anak IPS kelalen IPS pira.. Dia mah tetangga sebelah rumahku persis. Ke rumahku bwt liat2 jeans jualan mbakku.. Oya, dia buka counter voucher HP di rumahnya. Kayaknya sih lumayan laris. Slamat ya Yud..

 

Ini yg ga sempet ketemu tapi sempet telfon-telfonan :

  1. Seno Wuryanto. Anak IPA 1. Belum kelar kul ekstensinya tapi udah kerja di PLN Pontianak. Wuih, adoh temen Sen..
  2. Reni Agustin Suparwati. Exs IPA 1 jg. Masih nyelesein ‘masalah-masalah kecil’ penelitian katanya. Tetep Semangat yaa..!
  3. Nita. Dia bukan anak SMUN1C, jg bukan asli Cilacap sih..he..he… Skg ngajar anak SMP jadi guru Kimia-Fisika. Eh, dia masih ramah kayak setaun yg lalu :) Kata dia smpet ngliat aku bulan Ramadhan kemaren, komentarnya, “Mas Ihsan tambah gemuk aja ya..” Waaah…

 

(Bersambung..)

Posted by ihsan at 15:58:48 | Permalink | Comments (4)