Bikin Partai
Siang kemaren di sebuah Masjid. Aku sedang bersantai melepas lelah ba’da sholat dhuhur. Datanglah bapak tua berjas dan berbaju merah. Basa-basi sebentar, kemudian dia bercerita tentang kondisi bangsa yang sedang carut-marut ini. Beberapa analisis mengenai akar masalahnya pun disampaikan. Sampai pada satu kesimpulan bahwa harus dilakukan sebuah perubahan total, perubahan mendasar agar bangsa ini bisa keluar dari segala permasalahannya.
Bapak itu lalu menyampaikan bahwa dia punya partai baru. Dia memperkenalkan diri sebagai presiden partai itu. Dikeluarkanlah print-printan logo lambang partai yg memang baru kali itu aku lihat. Dengan menggebu-gebu bapak itu menyampaikan, kalau partai ini menang tahun 2009 nanti, maka perubahan akan terjadi di negeri ini.
Lucunya, waktu dia tanya asal daerahku dari mana, langsung saja dia katakan, bikin kepengurusan di sana, ajak teman dan saudara, menangkan partai ini di sana nanti kamu bisa jadi bupati. Segampang itukah? Tapi waktu aku tanya bagaimana strategi partai ini memenangkan pemilu 2009 nanti, aku tak mendapatkan jawaban apa pun.
Masih di hari yang sama, di masjid yang sama. Yang ini setelah sholat ashar berjamaah. Aku yang waktu itu sedang ngobrol dengan 2 temanku dihampiri seorang pemuda. Semangatnya ga kalah dengan bapak tua tadi. Dia pun bercerita tentang hancurnya negeri ini, mandegnya reformasi. “Yang harus dilakukan sekarang adalah REVOLUSI bukan lagi reformasi..” Dia menambahkan, “Revolusinya bukan revolusi karl marx, lenin, dkk tapi revolusi yang asli Indonesia.”
Dia pun mengeluarkan sebuah bundel berisi Anggaran Dasar dan Angaran Rumah Tangga sebuah ormas pemuda yang rencananya akan dilaunching tidak lama lagi di Jakarta. Mungkin untuk menunjukkan bahwa ini bukan sesuatu yang main-main, ditunjukinya foto salah satu Jenderal ternama di negeri ini. Dia juga menyebut-nyebut beberapa politisi nasional berada di belakang ormas ini.
Oya, dia mengaku kalau baru saja datang hari itu juga dari Kalimantan, tempat dia tinggal sebelumnya. Dia menyebutnya hijrah ke Jakarta, setelah dia mendapat mimpi didatangi Bung Karno. Di dalam mimpinya itu, masih cerita dia, Bung Karno menyampaikan pesan bahwa sudah saatnya mengambil peran dan mengambil kekuasaan di negeri ini.
Dia bilang, dengan meminta bantuan dari Yang Di Atas, Kun Fayakun, dia dan teman-temannya mau menyelamatkan bangsa ini. Penasaran aku nanya, “Nantinya mau bikin partai?” Jawabannya masih malu-malu, “Ya nanti kita lihat situasionalnya lah..”
Hmm, oke lah, aku jg paham kalau saat ini sudah banyak orang yg merasa gerah lihat kondisi bangsa ini yg bukannya tambah membaik tapi malah sebaliknya. Aku juga hargai semangat ingin mengambil peran untuk berbuat sesuatu. Tapi mbok ya… semua itu tidak menihilkan peran akal kita yang memang dianugerahi Allah dengan sangat luar biasa. Maksudnya, rumuskan dulu langkah perjuangan yg mau dilakukan, dengan strategi matang, dengan konsep-konsep yang memang realisitis, kongkrit.
Eep Saifullah Fatah, pengamat politik kondang, pernah mengisi seminar di FISIP UI beberapa bulan lalu membahas soal RUU Partai Politik yang saat ini memang sedang hot-hotnya. Dia bilang, saat ini bikin partai memang bukan perkara mudah. Harus ada deposit dana partai minimal Rp. 5 Miliar. Ditambah syarat seperti harus punya perwakilan minimal di seluruh propinsi di negeri ini, punya kantor di minimal 75 % kabupaten/kota yang ada.
Itu belum bicara soal visi, misi, program partai2 itu. Apa solusi yang mereka tawarkan untuk menyelesaikan masalah2 di negeri ini, apa jaminannya mereka benar2 akan memperjuangkan nasib rakyat bukan sekedar berjuang untuk kepentingannya sendiri. Toh, bukannya masyarakat kita sekarang justru lagi ga percaya sama partai politik? Survei di Jakarta mengungkap sebanyak 80 % warga Jakarta ga percaya sama Calon Gubernur yang diusung oleh partai.
Sayang, pertemuanku dengan kedua orang tadi terlalu singkat. Hanya doaku yang mudah2an bisa menyertai mereka, semoga mereka bisa menyadari bahwa pekerjaan memperbaiki konstruksi bangsa ini tak cukup hanya sekedar bikin partai baru, bikin ormas baru. Toh, partai-partai lama yg ada sekarang juga belum bisa berbuat banyak.
Kosan KuKel Beji-Depok, 10:32 pagi
Sambil ndengerin lagunya Wayang – Dongeng… Ah, negeri ini memang seperti negeri dongeng saja!
Pastikan hari ini jauh lebih baik.
Salam,
Ihsan.