Thursday, June 14, 2007

Bikin Partai

Siang kemaren di sebuah Masjid. Aku sedang bersantai melepas lelah ba’da sholat dhuhur. Datanglah bapak tua berjas dan berbaju merah. Basa-basi sebentar, kemudian dia bercerita tentang kondisi bangsa yang sedang carut-marut ini. Beberapa analisis mengenai akar masalahnya pun disampaikan. Sampai pada satu kesimpulan bahwa harus dilakukan sebuah perubahan total, perubahan mendasar agar bangsa ini bisa keluar dari segala permasalahannya.

Bapak itu lalu menyampaikan bahwa dia punya partai baru. Dia memperkenalkan diri sebagai presiden partai itu. Dikeluarkanlah print-printan logo lambang partai yg memang baru kali itu aku lihat. Dengan menggebu-gebu bapak itu menyampaikan, kalau partai ini menang tahun 2009 nanti, maka perubahan akan terjadi di negeri ini.

Lucunya, waktu dia tanya asal daerahku dari mana, langsung saja dia katakan, bikin kepengurusan di sana, ajak teman dan saudara, menangkan partai ini di sana nanti kamu bisa jadi bupati. Segampang itukah? Tapi waktu aku tanya bagaimana strategi partai ini memenangkan pemilu 2009 nanti, aku tak mendapatkan jawaban apa pun.

Masih di hari yang sama, di masjid yang sama. Yang ini setelah sholat ashar berjamaah. Aku yang waktu itu sedang ngobrol dengan 2 temanku dihampiri seorang pemuda. Semangatnya ga kalah dengan bapak tua tadi. Dia pun bercerita tentang hancurnya negeri ini, mandegnya reformasi. “Yang harus dilakukan sekarang adalah REVOLUSI bukan lagi reformasi..” Dia menambahkan, “Revolusinya bukan revolusi karl marx, lenin, dkk tapi revolusi yang asli Indonesia.”

Dia pun mengeluarkan sebuah bundel berisi Anggaran Dasar dan Angaran Rumah Tangga sebuah ormas pemuda yang rencananya akan dilaunching tidak lama lagi di Jakarta. Mungkin untuk menunjukkan bahwa ini bukan sesuatu yang main-main, ditunjukinya foto salah satu Jenderal ternama di negeri ini. Dia juga menyebut-nyebut beberapa politisi nasional berada di belakang ormas ini.

Oya, dia mengaku kalau baru saja datang hari itu juga dari Kalimantan, tempat dia tinggal sebelumnya. Dia menyebutnya hijrah ke Jakarta, setelah dia mendapat mimpi didatangi Bung Karno. Di dalam mimpinya itu, masih cerita dia, Bung Karno menyampaikan pesan bahwa sudah saatnya mengambil peran dan mengambil kekuasaan di negeri ini.

Dia bilang, dengan meminta bantuan dari Yang Di Atas, Kun Fayakun, dia dan teman-temannya mau menyelamatkan bangsa ini. Penasaran aku nanya, “Nantinya mau bikin partai?” Jawabannya masih malu-malu, “Ya nanti kita lihat situasionalnya lah..”

Hmm, oke lah, aku jg paham kalau saat ini sudah banyak orang yg merasa gerah lihat kondisi bangsa ini yg bukannya tambah membaik tapi malah sebaliknya. Aku juga hargai semangat ingin mengambil peran untuk berbuat sesuatu. Tapi mbok ya… semua itu tidak menihilkan peran akal kita yang memang dianugerahi Allah dengan sangat luar biasa. Maksudnya, rumuskan dulu langkah perjuangan yg mau dilakukan, dengan strategi matang, dengan konsep-konsep yang memang realisitis, kongkrit.

Eep Saifullah Fatah, pengamat politik kondang, pernah mengisi seminar di FISIP UI beberapa bulan lalu membahas soal RUU Partai Politik yang saat ini memang sedang hot-hotnya. Dia bilang, saat ini bikin partai memang bukan perkara mudah. Harus ada deposit dana partai minimal Rp. 5 Miliar. Ditambah syarat seperti harus punya perwakilan minimal di seluruh propinsi di negeri ini, punya kantor di minimal 75 % kabupaten/kota yang ada.

Itu belum bicara soal visi, misi, program partai2 itu. Apa solusi yang mereka tawarkan untuk menyelesaikan masalah2 di negeri ini, apa jaminannya mereka benar2 akan memperjuangkan nasib rakyat bukan sekedar berjuang untuk kepentingannya sendiri. Toh, bukannya masyarakat kita sekarang justru lagi ga percaya sama partai politik? Survei di Jakarta mengungkap sebanyak 80 % warga Jakarta ga percaya sama Calon Gubernur yang diusung oleh partai.

Sayang, pertemuanku dengan kedua orang tadi terlalu singkat. Hanya doaku yang mudah2an bisa menyertai mereka, semoga mereka bisa menyadari bahwa pekerjaan memperbaiki konstruksi bangsa ini tak cukup hanya sekedar bikin partai baru, bikin ormas baru. Toh, partai-partai lama yg ada sekarang juga belum bisa berbuat banyak.

Kosan KuKel Beji-Depok, 10:32 pagi
Sambil ndengerin lagunya Wayang – Dongeng… Ah, negeri ini memang seperti negeri dongeng saja!

Pastikan hari ini jauh lebih baik.
Salam,
Ihsan.

Posted by ihsan in 04:41:23 | Permalink | No Comments »

Sunday, June 10, 2007

Puisi WS Rendra

Kantor Margonda, jam 1:21 pagi.

Waktu aku ngoprek2 MP3 di komputer kantorku ini, aku nemuin file yang ternyata isinya puisi dari WS Rendra.. Seneng banget, bisa denger (lagi) suara ‘Si burung Merak’ ini berpuisi. Sengaja aku catet salah satu puisinya.  Kata-kata yg kutulis lebih besar cuma ekspresiku sesaat aja kok, ga lebih ^^. 

 

Bukan mw sok jadi pujangga, tapi mungkin ada diantara teman2 yg jg suka sama puisi ini.

 

 

Kupanggil namamu.

WS Rendra

 

Sambil menyeberangi sepi,

Kupanggili namamu, wanitaku

Apakah kau tak mendengar?

 

Malam yang berkeluh kesah

Memeluk jiwaku yang payah

Yang resah

Karena memberontak terhadap rumah

Memberontak terhadap adat yang latah

dan akhirnya tergoda cakrawala

 

Sia-sia kucari pancaran matamu

Ingin kuingat lagi bau tubuhmu yang kini sudah kulupa

 

Sia-sia

Tak ada yang bisa kucamkan

Sempurnalah kesepianku

 

Angin pemberontakan menyerang langit dan bumi

Dan duabelas ekor serigala

Muncul dari masa silamku

Merobek-robek hatiku yang celaka

 

Berulangkali kupanggil namamu

Dimanakah engkau wanitaku?

Apakah engkau sudah menjadi masa silamku?

 

………………………

 

 

 

Salam,

Ihsan.

Posted by ihsan in 08:08:21 | Permalink | No Comments »

Thursday, June 7, 2007

Salam *)

Oleh :
Ihsanul Muttaqien dalam ‘Hikmah’ pada Harian Umum Republika 05/10/04

Sejak Nabi Adam AS, salam sesungguhnya sudah dikenal dan bahkan disyariatkan oleh Allah SWT. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya. Beliau bersabda, “Ketika Allah menciptakan Adam AS, Allah berfirman kepadanya, “Pergilah dan ucapkanlah salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu kemudian dengarkanlah jawaban mereka kepadamu. Sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan bagi anak cucumu”. Maka Adam AS mengucapkan, “Assalamu’alaikum”. Mereka menjawab, “Assalamu’alaikum warahmatullah”. Mereka memberi tambahan dengan, “warahmatullah”. (HR Muttafaqun ‘alaih).

Dalam salah satu kisah dalam Al-Quran, Nabi Ibrahim AS pernah menjawab salam dari para malaikat. Allah SWT berfirman, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim, malaikat-malaikat yang dimuliakan? Ingatlah ketika mereka masuk ke tempatnya dan mengucapkan, “Salamun”. Ibrahim AS pun menjawab, “Salamun”. Kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal.” (QS 51:24-25).

Dalam kehidupan sehari-hari sudah selayaknya kita sebagai umat Islam untuk senantiasa menebarkan salam. Baik ketika kita bertatap muka dengan orang lain, ketika hendak masuk rumah, maupun pada saat membuka sebuah majlis pertemuan dan berbicara di depan publik. Dalam menyampaikan salam pun dianjurkan untuk mengucapkannya dengan sempurna agar mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Turmudzi, Rasulullah SAW menyampaikan bahwa barangsiapa yang mengucapkan “Assalamu’alaikum” maka pahala yang didapatkannya adalah 1 hasnah dan dilipatgandakan menjadi 10 hasnah. Barangsiapa yang menambahkannya menjadi “Assalamu’alaikum warahmatullah”, pahalanya dua hasnah dan akan dilipatgandakan menjadi 20 hasnah. Sedangkan yang menyempurnakannya “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” maka pahalanya menjadi 30 hasnah.

Diantara fadhilah-nya, salam dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama Muslim. Dari Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam diantara kamu sekalian’.” (HR Muslim).

Selain itu, Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salam merupakan jaminan kesejahteraan bagi umat Islam. Bagi orang-orang kafir yang mau tunduk pada hukum-hukum Islam atau yang disebut dengan ahlu dzimmah, salam juga merupakan jaminan keamanan. “Sesungguhnya Allah menjadikan salam sebagai kesejahteraan bagi ummat kami dan keamanan bagi ahlu dzimmah kami.” (HR Ath-Thabrani).

***

 

*) ini tulisan 3 th lalu, surprise bgt ternyata diposting orang di blognya… aq copy lg trus kuposting disini, smg ad manfaatnya.

Posted by ihsan in 11:42:56 | Permalink | Comments (2)

Friday, June 1, 2007

Sekedar Celoteh….

Kantor Margonda, 00:23
Tulisan ini bukan tulisan yang serius. Dibuat sekenanya dan dalam kondisi yang seadanya. Ya, ini sekedar celotehku.

Walaupun demikian, semoga saja ada manfaat yg bisa diambil dari sekedar celoteh ini. Minimal bwt aku sendiri, yg memang sedang butuh sekali manfaat2 (baca: masukan2) yang banyak dari siapa pun, wa bil khusus dari diriku sendiri. Ya, kata orang, apa yg berasal dari diri kita sendiri lebih ampuh dari apa pun jg yg berasal dari orang lain.

Sekumpulan kata2 bijak sehebat apa pun itu dari orang hebat mana pun, masih bisa dikalahkan oleh sebuah kalimat sederhana yang kita simpulkan dan kita bikin2 sendiri. Karena bisa jadi kalimat sederhana yg kita bikin2 sendiri itu adalah sebuah rangkuman suatu proses pembelajaran diri kita dari setiap kejadian, peristiwa, atau pengalaman yang kita jalani sendiri.


Dan satu kalimat yg aku bikin2 sendiri, baru saja aku bikin: setiap senyuman akan menghasilkan satu keajaiban..

Duh, mungkin bwt tmn2, kalimat bikin2an aku itu biasa-biasa aja, ga ada istimewanya. Ga menggugah. Tapi jujur, bwt aku, setidaknya bwt saat ini, itu bisa jadi sangat istimewa. Diawali dari beban yg aku rasakan dari masalah2 yg menumpuk di batok kepala ini. Diilhami oleh sebuah ketukan pintu kantor, malam tadi.

Sebuah senyum sumringah dari temanku, yg ga aku duga2 kedatangannya. Dan justru ga aku duga2 juga bisa langsung menular-merasuk ke dalam sel2 syaraf yg menyambung ke otakku. Aku ikut senyum.

Sedetik setelah aku ikut2an senyum, aku yg sblmnya ngerasa terbebani sama masalah2 yg berat, jadi lebih entengan. Ngeliat temenku yg satu ini cengar-cengir, jd bikin aku mikir, ternyata masalah bisa juga kita hadapi dengan cengar-cengir juga kok. Ga selalu langsung menyelesaikan masalahnya sih, tapi paling ga, bisa mempermudah kita untuk mencari penyelesaiannya.

Aku jadi inget sama teori “senyum 2-2-7”-nya ustadz Jamil Azzaini. Senyum 2 centi ke kanan, 2 centi ke kiri dan tahan selama tujuh detik. Setiap wajah yang tersenyum pasti menyenangkan bwt yg ngliatnya.. Duh, spontan kok aku jadi keingetan ya… tmn perempuan yg aku idam2kan (ehem) melemparkan senyumnya waktu ngeliat aku di jalan. Atw senyumnya Gita Gutawa setiap dia tampil di TV (ketauan ngefans yah? Hehe). Juga senyum manis ibuku, waktu aku berusaha ngelucu di depannya….

Wews, ternyata memang setiap senyuman yg aku sebut itu, dan senyum2 yg lain yg ga sempet aku sebut, udah memberikan keajaiban2 bwt aku. Kecil atau besar, yg aku nyadar atw ga. Semua ajaib.

Lebih dari itu semua, senyum itu sedekah. Dan, ngutip dari ustadz Yusuf Mansur, setiap sedekah yang kita berikan pasti akan dibalas dengan berlipat ganda di akhirat nanti, juga di dunia. Secara cash, kontan. Jadi, setiap senyuman kita pasti ada balasannya, dibayar kontan.

Mari, sebelum mengakhiri tulisan ini, aku mengajak tmn2 semua untuk senyum.

:)

Tuh, ajaib bukan…

Salam,
Ihsan.

NB: Spesial thanx bwt Ardhi, bwt senyumannya yg ga pernah ga dia lemparkan ke siapa pun juga.

Posted by ihsan in 09:21:23 | Permalink | Comments (3)